MANAGED BY:
RABU
26 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 07 Februari 2017 09:24
Anggaran Pemerintah Minim, Incar Peluang di Swasta
-Ilustrasi

PROKAL.CO, MINIMNYA anggaran pemerintah daerah menjadi pukulan keras bagi pengusaha lokal. Untuk survive, mereka harus memutar otak merumuskan strategi agar tetap bertahan. Termasuk lepas dari proyek negara.

Mahyudin, pengusaha Balikpapan itu, mengungkapkan keuangan daerah yang lagi “sakit” cukup memengaruhi bisnisnya. Pemilik konsultan proyek, PT Zigma Sawitto Konsultan itu menyebut, selama ini, pekerjaan dikerjakan 90 persen dari pemerintah. Sebagai konsultan proyek, dia memang memiliki nama. Namun, saat anggaran dipangkas seperti sekarang, dampaknya terasa.

Kendati demikian, tahun lalu, perusahaannya masih tergolong stabil. Karena usahanya bergerak di jasa konsultan bukan pengerjaannya. Jumlah dananya pun tidak sebanyak jasa kontraktor. Tapi, dia memproyeksikan, tahun ini karena defisit anggaran tersebut kemungkinan omzet yang diterima turun 30 persen.

Tidak mau diam meratapi situasi, pria yang akrab disapa Yudi itu menjelaskan kemungkinan akan lebih melakukan penetrasi ke sektor non pemerintahan dan tambang batu bara. Pasalnya, proyek itu di sektor ini dinilai bisa menutupi pasar pemerintah yang mungkin sebagian hilang. “Bisnis batu bara pelan-pelan bergerak positif,” bebernya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim Slamet Brotosiswoyo mengatakan, kondisi minimnya anggaran pemerintah membuat perusahaannya, PT Prakasa Bintang Jaya yang bergerak di bidang konstruksi tidak dulu mengerjakan proyek. “Saat ini, saya hanya merentalkan alat berat. Sangat berisiko jika mengambil proyek pemerintah di tengah kondisi seperti sekarang,” bebernya.

Kenapa demikian, pembayaran yang tidak jelas dari pemerintah membuat pengusaha tidak ingin mengambil risiko. Ketika dana belum cair, otomatis pengusaha melakukan pinjaman ke bank.

Ketidakjelasan pembayaran dari pemerintah, berbanding terbalik dengan bunga kredit dari bank. Setiap bulannya ada kewajiban yang mereka bayarkan. Sehingga adanya bukan untung, malah merugi. Sejak dua tahun lalu, Slamet mengatakan sudah tidak mengambil pengadaan proyek pemerintah.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan Yaser Arafat yang memiliki perusahaan yang bergerak di sektor jasa konstruksi satu suara dengan Slamet. Pemilik PT Anugrah Jaya Mandiri itu mengaku, karena minimnya anggaran pemerintah, komposisi pengerjaan proyeknya sekarang terbalik.

Sebelumnya 60 persen proyek yang dia kerjakan berasal dari pemerintah dan 40 persen non pemerintah dan swasta. Sekarang kebalikannya bahkan proyek pemerintah belakangan mulai ditinggalkan.

Pria yang mempunyai hobi golf dan sepak bola itu mengatakan, selain efisiensi, ada beberapa sifat yang harus dimiliki pengusaha dalam situasi sekarang. Mereka harus menanamkan pemikiran kerja keras dan sifat ikhlas. “Kita tidak bisa mengikuti cara bisnis sebelumnya. Namun, sekarang harus bekerja lebih keras. Yang menggantungkan diri kepada kita cukup banyak,” imbuhnya.

Yaser mengungkapkan, dibanding tahun-tahun ketika kondisi ekonomi normal, anak pertama dari dua bersaudara itu membeberkan omzet tahun lalu menurun sekitar 30 persen. Untuk meningkatkan pendapatan, maka perlu dilakukan ekspansi ke daerah lain.

Terpisah, Kepala Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kaltim Area Balikpapan Muhammad Hidayat menuturkan, sepanjang tahun lalu, penyaluran kreditnya hanya terealisasi 80 persen dari target. Selain kondisi ekonomi yang belum stabil, defisit anggaran pemerintah berimbas pada ikut dipangkasnya sejumlah rencana proyek APBD. Di sisi lain, orientasi penyaluran kredit perusahaan daerah ini lebih ke kontraktor yang menjalankan proyek pemerintah.

“Karena defisit anggaran tersebut, banyak pengusaha yang enggan menggunakan jasa perbankan untuk permodalan. Mereka banyak memanfaatkan modal yang mereka miliki. Serta, menuntaskan pekerjaan sesuai dana yang dikucurkan oleh pemerintah,” terangnya.

Menurut dia, ketimbang menambah beban kredit di perbankan, banyak pengusaha yang akhirnya menempuh cara tersebut. Ditambah, karena defisit anggaran, mereka jadi enggan mengambil proyek pemerintah. “Yang banyak diambil pengusaha saat ini proyek multiyears contract atau proyek yang tak bisa dirampungkan dalam setahun,” terangnya.

BANTU PEMERINTAH

Sudah 25 tahun Abdul Ramis bermitra dengan Pemkab Paser dalam membangun kabupaten paling selatan Kaltim itu. Selama menjadi mitra pemerintah, pria yang akrab disapa Nanang Ramis itu menyatakan bisa bertahan di tengah-tengah kondisi keuangan daerah yang serbasulit.

“Kami sebagai mitra tentunya sudah seharusnya ikut bahu-membahu menghadapi defisit anggaran. Meski hal itu agak sulit, bagi kami tetap melaksanakan pekerjaan sesuai kontrak kerja. Saya senang banyak membangun jalan, karena manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” ujar direktur utama PT Fajar tersebut.

Menurut dia, saat Pemkab Paser berutang kepada kontraktor, Nanang melakukan beberapa cara agar 60 karyawannya tetap memperoleh hak sebagai pekerja. Salah satunya menyewakan alat berat sekaligus tenaga driver untuk pihak-pihak yang memerlukan. Di antaranya, perusahaan perkebunan, batu bara, dan pengembang perumahan di Paser.

“Meski pekerjaan itu dalam lingkup atau skala kecil, tetap kami ambil. Dengan begitu, PT Fajar tetap bisa menggaji karyawan kami yang terdiri dari admin dan driver alat berat,” bebernya.

Jadi, lanjut dia, masalah tersebut merupakan pelajaran berharga bagi dia dan rekannya sesama kontraktor. “Saat sekarang diperlukan terobosan bagi kontraktor. Sehingga ketika dihadapkan dengan kondisi seperti ini (minim anggaran), kami masih bertahan,” ungkapnya.

Nanang berharap, Pemkab Paser segera merapatkan barisan bersama daerah lain di Kaltim untuk meminta hak yang layak kepada pemerintah pusat melalui dana bagi hasil. Dengan itu, daerah bisa terbantu. (*/ns/*/and/edw/*/dns/aji/rsh/qi/rom/k8)


BACA JUGA

Selasa, 25 April 2017 13:13

Nginap di Hotel Melati, Akhirnya Bos Komura Itu Tertangkap

SAMARINDA – Kasus pidana di Koperasi Samudera Sejahtera (Komura) Samarinda masih memanas. Minggu…

Selasa, 25 April 2017 13:05

Sabotase Bandara demi Hindari Selingkuhan

AKSI playboy zaman sekarang tak melulu hanya menyakiti hati gadis. Bahkan juga bisa bikin repot negara.…

Selasa, 25 April 2017 13:00
Rita Widyasari, Calon Gubernur Perempuan Kaltim yang Begitu Didukung (1)

“Jangan Lihat Usia dan Gender, tapi Lihat Niat Saya Bangun Daerah”

Perempuan di provinsi ini belum banyak bersuara lantang. Terutama dalam menyuarakan derita di pelosok…

Selasa, 25 April 2017 12:00

Spirit Persiba Nodai Marora

BALIKPAPAN – Persiba Balikpapan mengusung misi berat di pekan kedua Liga 1 2017. Tim berjuluk…

Selasa, 25 April 2017 10:14

Bulan dari Perbatasan

Sepanjang 72 tahun kemerdekaan, merobek isolasi perbatasan negara layaknya pungguk merindukan rembulan.…

Senin, 24 April 2017 13:00

Izin Tambang Ditertibkan, Kukar Tak Perlu Gusar

SAMARINDA – Kekhawatiran Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari bahwa penertiban izin…

Senin, 24 April 2017 12:45

Paling Kotor, Kalimantan Terparah Kedua di Asia Versi Forbes

Menyambut Hari Bumi, ada kado tidak istimewa dari Forbes. Pada 19 April lalu, situs berita majalah bergengsi…

Senin, 24 April 2017 12:34

Sehari, Biaya Makan untuk Penghuni Penjara Rp 137 Juta

SAMARINDA – Bergulirnya rencana revisi PP 99/2012 menjadi angin segar bagi penjara yang berpenghuni…

Senin, 24 April 2017 12:00

Kambing buat Bayar SPP

HARARE – Bayar beban biaya sekolah alias SPP kini tak perlu menggunakan uang tunai. Bayar saja…

Senin, 24 April 2017 09:31

DERBY LONDON DI FINAL FA

SEMIFINAL Piala FA di Stadion Wembley, Minggu (23/4), berlangsung dramatis. Arsenal berhasil bangkit…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .