MANAGED BY:
RABU
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Senin, 30 Januari 2017 10:08
Pergi-Pulang Sekolah: Om Nebeng Om!

PROKAL.CO, OLEH: ACHMAD RIDWAN

PULUHAN anak berdiri di tepi jalan poros Sangatta-Bontang dan Bontang-Samarinda. Mereka ada yang mengenakan kaus olahraga, ada pula yang berseragam batik. Jika tampak mobil akan melintas, tangan-tangan kecil itu melambai, mengundang pak sopir untuk berhenti dan mengangkut mereka: Om, nebeng, Om!

Tak ada yang tahu, lambaian itu akan berujung ke rumah, atau tempat asing yang tak diharapkan. “Kalian nggak takut kalau Om culik?” tanya seorang kawan di belakang kemudi. Dua gadis cilik berkerudung yang nebeng kendaraan kami cuma mesam-mesem saling pandang.

Pertanyaan yang sama kami ajukan kepada tiga pria kecil yang nebeng kami di ruas jalan berikutnya. Mereka malah cekikikan tanpa sirat takut sama sekali. Jika Anda takjub pada perjuangan anak-anak sekolah di pelosok Indonesia, yang misalnya, harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai berarus deras untuk pergi-pulang sekolah, potret di atas pun harus ditakjubi pula. karena menyimpan risiko yang sama berbahayanya.

Anda boleh bilang saya lebay. Tapi sebagai seorang ayah, saya akan sangat khawatir jika anak saya harus ada di posisi itu: menunggu pengendara asing mengantarkan mereka ke sekolah dan pulang ke rumah. Anak-anak yang nebeng itu ada di semua jenjang dari SD hingga SMA.

Keprihatinan serupa bisa ditemui juga di Jalan Soekarno Hatta dan jalan-jalan antar-kota/kabupaten lainnya di Kaltim. Sudah belasan tahun, bahkan mungkin puluhan tahun, anak-anak di pinggiran Kutai Kartanegara hingga Kutai Timur pergi menuntut ilmu dengan transportasi berisiko itu.

Memang, saya belum pernah mendengar ada tindak kriminal akibat kebiasaan nebeng tersebut. Tapi, apa kita harus menunggu jatuhnya korban seperti lubang tambang yang dulu juga tidak ada yang menyangka bakal menjadi kuburan bagi puluhan anak di Kaltim?

Mengapa persoalan ini bertahan dari tahun ke tahun? Entahlah, paling mudah tentu bersembunyi di balik defisitnya anggaran. Tapi, beberapa tahun lalu kan belum defisit. Apalagi ketika batu bara sedang berjaya. Lalu apa masalahnya? Saya rasa ini cuma soal political will.

Jika anggaran yang jadi masalah, pemerintah setempat bisa melakukan pendekatan dengan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sana untuk diminta dana CSR-nya. Dana itu digunakan untuk membeli mobil operasional antar-jemput anak sekolah.

Bisa juga pemerintah kabupaten membuka dialog dengan kepala-kepala desa yang warganya kesulitan dalam hal transportasi sekolah anak-anak mereka. Jika memungkinkan, alokasi dana desa (ADD) bisa dianggarkan untuk pengadaan mobil dan operasional sehari-harinya. Saat tak digunakan untuk antar-jemput anak sekolah, mobil bisa digunakan untuk keperluan lain di desa tersebut.

Di Purwakarta, Jawa Barat, Bupati Dedi Mulyadi baru membeli 15 unit mikro-bus yang didesain cantik dan dinamakan Kidang Kencana. Tampilannya tak kalah dari unit-unit milik travel agent dengan rute Sangatta-Balikpapan PP atau Samarinda-Balikpapan PP. Kabupaten dengan APBD sekitar 2 triliun itu menyisihkan Rp 6 miliar untuk pengadaan angkutan gratis tersebut.

Sepersekian dari nilai anggaran untuk pendidikan itu, sudah cukup untuk menenangkan hati ratusan orangtua siswa. Apalagi, Kang Dedi – sapaan khas Bupati Dedi Mulyadi, menyerahkan pengelolaan kendaraan itu kepada Kodim 0619 Purwakarta. Sopir yang setiap hari menemani anak-anak itu adalah anggota TNI.

Selain bertugas mengantar-jemput, sopir-sopir itu juga diberi tugas tambahan memberi bekal wawasan kebangsaan dan Pancasila kepada para penumpangnya. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Masalah transportasi teratasi, pendidikan karakter juga terpenuhi.

Tapi, ide-ide semacam itu tidak mungkin muncul tanpa adanya kegelisahan. Ketika nebeng ke sekolah dengan pengendara asing dianggap hal biasa, maka wajar jika tak ada upaya mengatasinya. Bukan masalah kok diatasi. Tak perlu digelisahkan.

Masalah pendidikan di kabupaten-kota di Kaltim ini sudah cukup kompleks; seretnya bantuan operasional sekolah, peningkatan kualitas guru, fisik sekolah, penyesuaian kurikulum dan teknologi, sampai yang terbaru alih wewenang pengelolaan dari pemerintah kabupaten/kota ke pemerintah provinsi untuk jenjang SMA/SMK. Banyak, kan? Jadi tak perlu mencari-cari masalah baru. Demikian kira-kira cara ngeles yang agak elegan.

Selamat berjuang menuntut ilmu, anak-anak pemberani! Semoga kalian selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. (riz/k18)

(*) awan@samarindatv.co.id, penulis adalah pemerhati pendidikan dan Direktur STV (televisi lokal di bawah jaringan Kaltim Post Group)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .