MANAGED BY:
JUMAT
23 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 10 Januari 2017 08:14
Urgensi Toleransi di Era Globalisasi

Catatan Jaenal Yusri Pengamat Sosial Budaya Tim Kewaspadaan Dini Masyarakat Kaltim

Jaenal Yusri

PROKAL.CO, TAHUN  638 masehi, ketika Khalifah Umar dipandu menyusuri Jerusalem oleh Patriarch Sophronius, Khalifah menolak menunaikan salat di Anastasis; yang dipercaya sebagai tempat kematian dan kebangkitan Kristus. Dia khawatir, jika dia salat di sana, kaum muslim akan mengubahnya menjadi tempat peribadatan Islam.

 Tidak hanya itu. Alquran adalah kitab suci yang sangat menonjol dalam mengakui keabsahan agama-agama lain. Di bawah kejayaan Islam, orang Yahudi dan Nasrani dilindungi sebagai ahli kitab dan diberi kebebasan (relatif) untuk menjalankan agamanya. Namun, di era globalisasi saat ini, warisan luhur seperti itu lebih sering digunakan kalangan Islam sebagai alasan untuk menyudutkan lawan, ketimbang sebagai sumber inspirasi untuk mempertahankan toleransi Islam.

Disadari, betapa banyak muncul potensi intoleransi di tengah masyarakat mulai kasus yang murni karena persoalan agama (akidah) hingga persoalan yang ditumpangi kepentingan politik.

Agama sering dijadikan alat untuk menggerakkan emosi umat. Sehingga membuat begitu mudah terjadi gesekan, kebencian, dan permusuhan antarsesama warga negara.

 Ironisnya, di era kemajuan tekhnologi saat ini dampak intoleransi tersebut bisa menyebar bak virus dengan begitu cepat. Dilakukan hanya dengan satu gerakan “klik” kapan pun dan di mana pun oknum tersebut berada. Sejatinya setiap agama mengajarkan tentang pentingnya kerukunan, kedamaian, dan saling mengasihi antara satu dengan yang lain.

 Namun dalam realitanya, masih sering terjadi permusuhan, kebencian, dan fitnah yang bisa menjadi potensi merusak kesatuan serta persatuan bangsa. Walaupun Kementerian Agama sudah melakukan dialog agama secara rutin sejak digagas oleh Prof Dr Mukti Ali pada 1971. Namun praktik intoleransi masih tetap terjadi. Apa sesungguhnya yang salah dalam pengelolaan bangsa ini, sehingga benih-benih kebencian selalu ada dan bahkan semakin membesar?

 SALING MENGHORMATI

 Setiap agama mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa berbuat kebaikan, kedamaian, hidup rukun, saling menghormati, dan cinta pada bangsa dan negara. Dalam ajaran Islam misalnya disebutkan, “Cinta pada negara adalah sebagian dari iman.” Bahkan dalam Alquran Surah Al-Anfal ayat 20 ditegaskan: Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kepada Rasulullah, dan yang memegang pemerintahan dari kamu.

 Bangsa Indonesia yang menganut berbagai agama sesungguhnya tidaklah menjadi penghalang untuk memberi sumbangan nyata sebagai implementasi dari bela negara. Perbedaan agama yang ada di tengah masyarakat sesungguhnya bukanlah merupakan potensi konflik manakala dimaknai dengan baik.

 Justru perbedaan agama dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika, bisa dijadikan sebagai alat perekat untuk mewujudkan kekuatan yang kokoh dalam membangun bangsa. Di tengah perbedaan agama, bisa dicari titik temu untuk berjuang dan berjihad bersama.

 Ada banyak persoalan bangsa dan negara yang bisa dikerjakan secara bersama oleh umat beragama. Persoalan aktual dewasa ini yang merupakan ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan (AGHT) yang dihadapi bangsa adalah masalah korupsi, bencana alam, terorisme, kebodohan, kemiskinan, konflik umat beragama hingga disintegrasi bangsa.

 Dalam masalah inilah, masing-masing agama diharapkan bisa mengambil peran sebagai sumbangan nyata dalam membangun bangsa dan negara. Karena sesungguhnya masalah tersebut menjadi musuh bersama. Untuk itu diperlukan kerukunan umat beragama (persatuan yang kuat) dalam menghadapinya karena selama ini telah menjadi penyakit kronis bangsa.

 URGENSI KERUKUNAN

Budaya kerukunan beragama sesungguhnya sudah menjadi bagian dari sejarah panjang bangsa Indonesia. Pendahulu kita telah mampu menunjukkan kerukunan beragama yang begitu indah dan menyejukkan. Kerukunan tersebut menyangkut tiga aspek (internal umat beragama, antarumat beragama dan umat beragama dengan pemerintah).

 Perbedaan agama di tengah masyarakat tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan dan saling menghormati. Ketika bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, para tokoh pendiri bangsa ini juga dengan arif dan penuh toleransi telah menyusun dasar negara dan UUD 1945. Di situ memiliki komitmen kuat pada persatuan di tengah perbedaan.

 Upaya memahami perbedaan tanpa mengganggu ibadah, mungkin perlu dilakukan. Dengan demikian bisa muncul kerelaan untuk menghargai kelompok lain yang berbeda paham, sehingga benih-benih kerukunan akan tumbuh semakin indah. Tugas berat inilah menjadi tantangan Kementerian Agama ke depan agar terwujud kerukunan yang semakin kokoh di tengah masyarakat. (riz/k18)

 


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 09:19

Profesor Fahutan dan Universitas Leiden

CATATAN: SARKOWI V ZAHRY TANGGAL 1 Juni yang lalu, Prof Wawan Kustiawan, dosen Fahutan Universitas Mulawarman…

Senin, 19 Juni 2017 08:06

DETAK DETIK NASIONALISASI

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO BERBICARA detak berkaitan rhytm, langkah ataupun tahapan. Detik berkaitan…

Rabu, 14 Juni 2017 09:41

Terjebak Opini WTP

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO TERCENGANG lagi, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan operasi tangkap…

Rabu, 07 Juni 2017 08:30

Perusda (Kapan) Untung?

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO PERUSAHAAN daerah (Perusda) harus jadi penopang utama pendapatan asli…

Senin, 05 Juni 2017 09:26

Puisi dan Permen Manis Dua Panglima

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO BERMULA dari Balikpapan, saat Rapimnas Partai Golkar 22 Mei lalu, Panglima…

Kamis, 01 Juni 2017 08:09

Indahnya Pancasila

CATATAN: AKHMAD MUADZIN HARI ini, Indonesia menawarkan sistem pemerintahan yang sangat baik. Dengan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .