MANAGED BY:
MINGGU
22 JANUARI
HOME | UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

BALIKPAPAN

Selasa, 27 Desember 2016 12:34
NAH..!! BPJS Semprit Faskes Tingkat Pertama

Jadi Temuan KPK, Dibayar Sesuai Kinerja

PERBAIKI LAYANAN PRIMER: Untuk mengurangi jumlah rujukan ke Rumah Sakit, BPJS Kesehatan akan menerapkan reward dan punishment di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama.(dok/kp)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN - Petugas puskesmas, klinik pratama hingga dokter perorangan bakal lebih berkeringat mulai awal 2017. BPJS Kesehatan Balikpapan akan menerapkan sistem pembayaran kapitasi berbasis kinerja (KBK). Metode ini dipilih untuk mendongkrak kinerja Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Sesungguhnya keputusan ini telah berjalan di beberapa daerah di Indonesia, terutama daerah yang menjadi ibu kota provinsi. Nantinya, diharapkan seluruh kabupaten/kota menerapkan kebijakan yang sama. Kepala BPJS Kesehatan Balikpapan Muhammad Fakhriza mengatakan, peraturan ini memacu pada rekomendasi yang diberikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Temuan dalam lembaga anti rasuah ini menyebutkan jika sistem pembayaran BPJS Kesehatan tergolong masih lemah. Selain itu, kinerja FKTP belum optimal. Sebab kenyataan di lapangan, banyak pasien yang telah berobat ke FKTP, namun tetap harus menjalani rujukan ke rumah sakit. “Ada sekitar 155 diagnosis penyakit nonspesialistik yang harusnya sudah bisa terselesaikan di faskes tingkat satu. Sehingga pasien tidak perlu lagi rujuk ke rumah sakit,” ucapnya kepada Kaltim Post.

Sistem kapitasi merupakan perhitungan pembayaran yang tidak hanya berdasarkan angka kesakitan. Namun, berdasarkan jumlah total peserta yang terdaftar BPJS Kesehatan. “Biasanya pembayaran dari jumlah peserta terdaftar akan dikalikan dengan nilai pembayaran sesuai permenkes,” tuturnya. Namun dengan sistem KBK, sambung dia, BPJS Kesehatan dapat menggenjot kinerja para dokter dan ahli kesehatan lainnya di FKTP.

Mereka akan mendapatkan bayaran sesuai kinerja masing-masing. Di mana, sistem pembayaran akan menuntut pada beberapa indikator. Pertama, indikator angka kontak komunikasi peserta. FKTP akan masuk kategori aman jika dapat menyentuh radius 150 per mil atau 15 persen dari total peserta terdaftar.

Riza memberikan contoh, jika faskes tingkat satu itu terpapar peserta dengan jumlah 10 ribu. Setidaknya mereka harus mampu menyentuh 15 persen dari total peserta. Berarti ada 1.500 peserta yang berada dalam jangkauan faskes tersebut. “Faskes harus melakukan kontak minimal sebanyak 15 persen peserta dari total keseluruhan. Artinya mereka harus kontak dengan peserta lewat berbagai cara. Mulai dari mengadakan sosialisasi langsung, kegiatan di posyandu, kontak lewat telepon, dan sebagainya. Tidak hanya kontak dengan mereka yang sakit,” jelasnya.

Kedua, adalah indikator rasio rujukan nonspesialistik. Riza menuturkan, dokter harus memberikan upaya maksimal untuk menangani pasiennya. Terutama pada pasien yang tergolong menderita penyakit nonspesialistik. “Apabila dokter masih memberikan rujukan pasien ke rumah sakit, padahal pasien itu masuk kategori penyakit nonspesialistik. Itu akan berpengaruh pada penilaian kinerja mereka,” sebutnya.

Tingkat penilaian sendiri terdiri dari zona aman sampai zona berprestasi. Bagi dokter yang memberikan rujukan kurang dari 5 persen dari total pesertanya akan masuk zona aman. Kemudian, untuk dokter dengan hasil rujukan kurang dari 1 persen, maka masuk zona berprestasi. Indikator lainnya, yaitu angka perpindahan peserta ke FKTP lain dan rasio prolanis FKTP.

Harapannya, sistem pembayaran KBK dapat meningkatkan kinerja dokter sekaligus sebagai alat kontrol kerja FKTP. Dengan begitu, tidak semua pasien harus mendapatkan rujukan ke rumah sakit setelah menjalani perawatan di FKTP. Terutama bagi pasien yang menderita penyakit nonspesialistik. (*/gel/riz/k15)


BACA JUGA

Sabtu, 21 Januari 2017 12:26

Datang ke Grand Wedding Expo, Yuk! Banyak Promo Menggiurkan Selama Pameran

BALIKPAPAN- Event Grand Wedding Expo 2017 di Atrium e-Walk, Balikpapan SuperBlock (BSB) akan berlanjut…

Sabtu, 21 Januari 2017 07:57

Terangi Perbatasan, PLN Kirim Mesin lewat Malaysia

BALIKPAPAN  –  PT PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimra)…

Sabtu, 21 Januari 2017 07:28

Polisi Masih Cari Orangtua Kandung Pembuang Bayi

BALIKPAPAN  -  Penemuan bayi di Perumahan Klaus Reppe Jalan Soekarno-Hatta Km 7,  Blok…

Sabtu, 21 Januari 2017 07:25

NGERI..!! Maling Motor Ini Beraksi di Kaltim, Kalteng, Jawa dan Maluku

BALIKPAPAN  -  Pemeriksaan intensif terus dilakukan terhadap Sahdani Umagafur (32). Pelaku…

Jumat, 20 Januari 2017 13:13

JOSS BANGET..!! Proyek Coastal Road di Balikpapan Siap Dimulai

BALIKPAPAN - Mega proyek reklamasi pesisir pantai Balikpapan atau biasa disebut coastal road menemui…

Jumat, 20 Januari 2017 12:11

ASTAGFIRULLAH...!! Baru Berumur Tiga Jam, Bayi Cantik Ini Dibuang

BALIKPAPAN – Masih ada saja orangtua tak bertanggung jawab yang tega membuang bayinya. Bayi perempuan…

Jumat, 20 Januari 2017 09:26

Syarat Dipermudah, Klaim JHT Meningkat

BALIKPAPAN – Akhir tahun 2016, BPJS Ketenagakerjaan Kalimantan menutup buku dengan pencairan Jaminan…

Jumat, 20 Januari 2017 09:21

Pemalsu Bibit Sawit Palsu Segera Disidang

BALIKPAPAN - Dua pelaku pemalsuan ribuan bibit kelapa sawit akhirnya ditetapkan tersangka. Keduanya…

Jumat, 20 Januari 2017 09:07

Miliki Sabu Belasan Gram, IRT Disergap, Kini Gabung dengan Suami Dipenjara

BALIKPAPAN ­– Peredaran narkoba kian merajalela. Mirisnya, tak hanya dilakukan oleh pria,…

Jumat, 20 Januari 2017 09:06

Gelapkan Duit, Perempuan Mantan Bendahara BPMP2KB Itu Akhirnya Ditahan

BALIKPAPAN - Setelah sempat menghilang, mantan bendahara Badan pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .