MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 22 November 2015 09:38
Lepas Jabatan Jualan Sampo, Anggota DPR Bermobil Butut

Mengenang 10 Tahun Meninggalnya Abdoel Moeis Hassan (2)

BERSEJARAH: Gedung dan Tugu Nasional di Samarinda, jadi salah satu peninggalan bersejarah perjuangan masa muda Abdoel Moeis Hassan.(aditama/kp)

PROKAL.CO, v>

Sepuluh tahun sudah Abdoel Moeis Hassan, gubernur Kaltim periode 1962-1966 berpulang, yakni pada 21 November 2005. Mengenang satu dasawarsa kepergiannya, berikut lanjutan catatan Taufik S Moeis, putra ketiganya.
 
SAAT mendiang bapak saya menjadi gubernur Kaltim, sejumlah perusahaan daerah (perusda) dibentuk. Tepatnya pada 1964. Di antaranya, Perusahaan Kehutanan Daerah, Perusahaan Pelayaran Daerah, dan Perusahaan Perikanan Daerah. Saat itu pula dijalin kerja sama dengan provinsi lain. Seperti Jawa Barat yang saat itu gubernurnya adalah Mashudi. Dengan Jawa Barat, yang saya ingat banyak kerja sama terjalin. Seperti bidang pendidikan, pertanian, transmigrasi, dan lainnya.

Sementara di bidang kesehatan, Pemprov Kaltim, merencanakan membangun rumah sakit umum pusat di Samarinda. Menggantikan RS lama, yang sudah ada sejak zaman Belanda. Sayangnya, sampai akhir jabatan bapak sebagai  gubernur, rumah sakit belum terwujud. Di bidang kesehatan juga saat itu sudah direncanakan pembangunan RS pembantu di daerah-daerah terpencil. RS tersebut diisi dokter relawan yang didatangkan dari Jawa. Pada masa jabatan bapak juga berdiri sejumlah bank. Seperti Bank Dagang Negara pada 1962, BNI 1946, dan Bapindo pada 1964. Sementara Bank Pembangunan Daerah berdiri pada 1965 dan menyusul kemudian Bank Indonesia di Samarinda.
 
Saat bapak menjadi gubernur, tidak semua anak-anak beliau tinggal di Samarinda. Hanya tiga adik kami tinggal bersama bapak dan mama di Samarinda. Selebihnya kami berempat tetap di Jakarta karena masih sekolah. Rumah kami di Kampung Bali, Gang 17, Jakarta, saat itu menjadi kantor perwakilan Kaltim. Pemprov Kaltim masih belum memiliki kantor perwakilan di Ibu Kota. Saat itu perwakilan Kaltim di Jakarta dijabat Bapak Edwin Adipuri yang tinggal di Jalan Sawahlunto, Manggarai, Jakarta.

Rumah di Kampung Bali hampir selalu digunakan bapak dan rombongan untuk menginap. Yang masih segar di ingatan saya, bapak datang selalu dengan stafnya. Yakni Bapak M Ardans (kelak menjadi Gubernur Kaltim), Ir Iliansyah, Drs Jakfar Achmad, juga Bapak Saleh Nafsi (Bupati Paser). Ajudan bapak saat itu adalah Tugio (lulusan IPDN) dan Yusran.

Pejabat-pejabat lainnya yang sering menginap di rumah Kampung Bali adalah Said Mochsen, Asyari Arbain, dan Aziz Samad. Sehingga rumah kami yang kecil, selalu penuh dengan pejabat-pejabat Pemprov Kaltim. Saya ingat, waktu itu masih siswa SMA. Salah seorang staf bapak, M Ardans, sering mengajak makan mi bakso di Pasar Baru. Saat itu, mi di kawasan tersebut terkenal di Jakarta.

PETAKA NASIONAL
 
Pada September 1965 terjadilah malapetaka nasional. Yakni, meletusnya pemberontakan G30S pada 30 September 1965. Setelah peristiwa tersebut, pada 1966, di kota-kota besar di Indonesia sering terjadi demonstrasi untuk meruntuhkan Rezim Orde Lama. Tak terkecuali di Kaltim dan bapak juga terkena imbasnya. Di Samarinda, ada sejumlah organisasi masyarakat (ormas) yang melakukan unjuk rasa. Mereka menuntut agar bapak mundur dari jabatan gubernur.

Akhirnya bapak memutuskan mundur. Sebelumnya, Mendagri yang waktu itu dijabat Basuki Rahmat, menyarankan agar bapak jangan mundur dulu. Alasannya, jabatan gubernur sisa satu tahun lagi. Tapi bapak tidak bersedia untuk meneruskan jabatannya.

Pada 14 September 1966, bapak menyerahkan jabatannya sebagai gubernur Kaltim dalam sidang istimewa DPRD Kaltim di hadapan Mendagri. Kemudian tugas bapak dikembalikan ke Departemen Dalam Negeri (DN), sebagai pegawai. Akhir 1966, bapak beserta keluarga kembali ke Jakarta dan kembali menempati rumah kami di Kampung  Bali, Gang 17, Tanah Abang.

Sampai sekarang masih teringat di benak anak-anak beliau, setelah bapak pensiun dari jabatan gubernur, sama sekali tidak mewarisi apa-apa. Boro-boro sebuah rumah baru, kendaraan pun tidak punya. Tinggal masih di rumah yang lama. Rumah kecil di dalam gang. Rumah ini sama sekali tidak memiliki fasilitas telepon. Jadi kalau mau berkomunikasi kami meminjam telepon ke sebuah kantor di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta.

Di Departemen DN, bapak tidak menduduki jabatan apapun. Hanya pegawai biasa. Pada 1967–1968, merupakan tahun prihatin bagi kami. Apalagi anak-anak bapak semuanya masih berstatus mahasiswa dan pelajar.

Akhirnya bapak memberanikan diri menjadi wiraswasta. Yakni, dengan mencoba membuka usaha memproduksi sampo rumahan. Anak-anak yang besar ikut membantu untuk memasarkan ke penjuru Jakarta. Menggunakan sepeda motor satu-satunya, yaitu Lambretta, kami mencoba membantu bapak untuk memasarkan sampo. Sedangkan mama mencoba membuka usaha berjualan es lilin yang dibuat sendiri.
 
Pada 1968, bapak kembali masuk dalam lingkungan legislatif. Oleh PNI, bapak diangkat menjadi anggota DPR-GR . Pada masa jabatan kedua sebagai anggota DPR, oleh pimpinan DPR, bapak dipercaya untuk menduduki pimpinan Komisi III. Beberapa kali ditunjuk sebagai Ketua Panitia Khusus untuk menyelesaikan beberapa undang-undang.

Saat kembali menjadi anggota DPR, bapak bisa membeli mobil bekas. Mereknya Morris Hillman produksi tahun 1950-an.  Kalau mengingat sejarah mobil tua ini, maka masih teringat dalam ingatan saya kejadian sangat menyedihkan dan lucu. Mobil ini pernah mogok karena akinya zwak/lemah.
 
Pada suatu siang hari, saya mengendarai mobil tersebut untuk menjemput bapak di Gedung DPR RI, Senayan, selesai menghadiri sidang komisi. Pada waktu itu mobil dari luar boleh masuk dan parkir di halaman dalam gedung.

Mobil saya arahkan ke bapak yang menunggu di depan tangga bawah gedung. Tiba-tiba mesin mobil mati. Saya coba starter beberapa kali tidak mau hidup. Mobil pun harus didorong. Bapak mencari-cari kalau ada orang yang lewat untuk membantu mendorong mobil. Kebetulan ada yang lewat yaitu, Bapak Moh Isnaeni. Waktu itu sebagai wakil ketua DPR-GR. Bapak minta tolong kepadanya. Bapak dan Pak Isnaeni mendorong mobil. Alhamdulillah, mesin mobil bisa hidup lagi. Bapak dan Pak Isnaeni saling tersenyum. Pikiran saya, mungkin saat itu dalam hati Pak Isnaeni berkata anggota DPR kok mobilnya butut dan mogok pula.

Pada 1970, bapak beserta rombongan DPR-GR menghadiri sidang APU (Uni Parlemen Asia) di Saigon dan bertemu dengan Presiden Vietnam Selatan, Nguyen Van Tiu. Pada waktu itu Vietnam terbagi dua, Vietnam Utara dan Selatan Bapak menjadi anggota DPR-GR/MPRS hingga 1971. Setelah pemilu pertama zaman Orde Baru, bapak tidak lagi menjadi anggota DPR.

Selepas dari anggota legislatif, bapak pernah mendapat tawaran untuk jabatan duta besar di salah satu negara di Amerika Latin tetapi ditolak. (far/k15)

Penulis adalah anak ketiga (dari tujuh bersaudara) pasangan alm A Moeis Hassan dan alm Fatimah. Seorang dokter spesialis bedah, purnabakti PNS, tinggal di Jakarta.
 
loading...

BACA JUGA

Rabu, 23 Januari 2019 11:42

Bendungan Bilibili Meluap, Banjir Hingga Atap

GOWA-- Ketinggian air di Bendungan Bilibili mendekati titik kritis. Tak…

Rabu, 23 Januari 2019 11:39
Bendungan Bilibili Meluap, Warga Panik, Dua Jembatan Ambruk

Karena Curah Hujan Tinggi, Pertama Kali di Bendungan Bilibili

MAKASSAR -Sirine berbunyi. Warga panik. Bilibili dalam status waspada. Inilah…

Rabu, 23 Januari 2019 08:58

Faktor Ini Masih Jadi Penyumbang Inflasi Besar di Kaltim

SAMARINDA  - Pada tahun 2019, diperkirakan inflasi Kaltim tetap terjaga…

Rabu, 23 Januari 2019 08:36

Gempa 3,4 SR Guncang Kutim

BALIKPAPAN – Data yang menunjukkan Kaltim aman dari gempa tampaknya…

Rabu, 23 Januari 2019 08:31

Sudah Surati Menteri dan BNPB, Warga Diminta Tenang

Pemprov Kaltara bergerak cepat menangani dampak abrasi di Desa Tanjung…

Selasa, 22 Januari 2019 12:27

PROTES..!! Australia Tak Ingin Ba’asyir Bebas Bersyarat

Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison mengajukan protes atas rencana…

Selasa, 22 Januari 2019 12:25

BELUM PASTI..!! Pembebasan Ba’asyir Dikaji Lebih Lanjut

JAKARTA – Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir pekan ini masih belum…

Selasa, 22 Januari 2019 09:16

Investor Minati Kembangkan Udang Windu Kaltim

SAMARINDA - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kaltim, Riza…

Selasa, 22 Januari 2019 09:14

Selama Tahun 2018, BI Temukan 1.108 Lembar Uang Palsu

SAMARINDA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur mencatat sepanjang…

Senin, 21 Januari 2019 11:40

Menanti Dampak Perda Tata Niaga Sawit

TANA PASER – Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Kabupaten…

AWAS..!! Cuaca Ekstrem Hingga Kamis

Bendungan Bilibili Meluap, Banjir Hingga Atap

Karena Curah Hujan Tinggi, Pertama Kali di Bendungan Bilibili

Wacanakan Pemisahan Pemilu Nasional dan Daerah

Terbakar saat Transfer Minyak

Dijawab Sekawan, Dibalas Berapa Bu, Sekewan?

Bantah Pacaran dengan Julie Estelle

Mendamba Momongan

Faktor Ini Masih Jadi Penyumbang Inflasi Besar di Kaltim

Gempa 3,4 SR Guncang Kutim
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*