MANAGED BY:
JUMAT
19 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Rabu, 04 Februari 2015 07:12
Suplai 3,5 Ton Es Per Hari untuk PKL hingga Restoran Internasional

Kisah Andi Sudirman, dari Militer ke Wirausaha

PROKAL.CO, v>

Jika sudah bulat, tekad berbisnis memang sulit dibendung. Bertahun-tahun mengabdi sebagai anggota militer, Andi Sudirman akhirnya kembali memilih mewarisi jiwa bisnis dari sang ayah.

ELLY KARTIKA SARI, Samarinda
 
PANGKAT sersan mayor TNI Angkatan Darat ditinggal Sudirman “hanya” untuk berbisnis es kristal. Yakni, es batu yang sengaja diproduksi untuk memenuhi kebutuhan minuman dingin di restoran dan rumah makan. Namun, tak banyak yang tahu pula, jika balok-balok kecil dari air beku itu mampu mencairkan rupiah, yang semakin tahun semakin berkembang nilainya.

“Usaha es kristal ini sudah saya rintis sejak masih berseragam TNI. Namun, saya akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha. Walaupun, dalam waktu dekat ini ada peluang melanjutkan pendidikan militer untuk kenaikan pangkat,” ucap pria asal Sulawesi Selatan ini.

Jiwa bisnis Sudirman dibentuk sejak kecil. Bersama Syariffudin, ayahnya, ia sudah kerap diajak berkeliling jualan ikan. Di Makassar, kampung halamannya, dia juga sempat mencicipi aktivitas sebagai penjual es batu bungkusan.

“Karena sudah pernah bersentuhan dengan es batu, saat pindah ke Samarinda, saya kembali terpikir untuk mencoba mengembangkan produk ini. Tapi, dengan konsep lebih modern, agar bisa bernilai tinggi,” papar dia.

Masih di sela-sela kesibukannya sebagai prajurit, dia memberanikan diri memulai usaha. Modal pun hanya dia dapat dari menggadai BPKB mobil saudaranya pada pertengahan 2011.

“Saat itu, modal pertama saya Rp 40 juta. Itu untuk membeli mesin pencetak es,” katanya.

Dengan kapasitas produksi yang baru 180 kg per hari, Sudirman merangkap tugas sebagai pengantar produknya. Dengan jaringan bisnis yang masih terbatas, dia menawarkan es batu miliknya secara door to door.

“Tidak ada yang mau beli, sampai es saya meleleh di perjalanan. Karena, saat itu saya masih pakai sepeda motor,” kenangnya sambil tertawa.

Dengan mental pantang menyerah ala militer, dia terus berusaha hingga akhirnya mendapat pelanggan pertamanya dari Pondok Borneo. “Orderan pertama waktu itu masih enam pak es per hari, satu pak isinya 10 kilogram (kg),” lanjutnya.

Setelah cukup dikenal dari mulut ke mulut, permintaan es batu miliknya terus bertambah. Bahkan, dia sempat kewalahan memenuhi karena terbatasnya kemampuan mesin pencetak.

 “Sampai saya harus beralasan, dengan bilang kalau mesinnya dalam perbaikan. Padahal, saya tak bisa penuhi permintaan karena mesinnya memang tidak bisa memproduksi banyak,” terang dia.

Merasa masih bisa meningkatkan kapasitas produksi, dia pun mengembangkan usaha dengan modal lebih besar. Kali ini, sang mertua yang menjadi “donatur” usahanya. Dari dana tersebut, dia membeli mesin yang bisa memproduksi 1 ton per hari pada Januari 2012.

“Harganya Rp 180 juta. Tapi, lambat laun juga tetap tak mampu membendung kelebihan pesanan,” jelas Sudirman, menceritakan kinerja mesin asal Korea itu.

Masih pada tahun yang sama, dia kembali memperbesar produksi, lagi-lagi dengan modal pinjaman yang kali ini dari bank. “Akhirnya, saya membeli mesin seharga Rp 522 juta pada Agustus  2013. Yang ini, kapasitasnya 4 ton per hari. Setahu saya, mesin ini adalah yang paling besar di Samarinda.

Meski begitu, mesin itu tak langsung dapat digunakan. Butuh empat bulan untuk mendaratkan mesin tersebut, setelah dia membayarnya. “Sempat ditinggalkan  pelanggan karena tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar,” tutur ayah tiga anak ini.

Kendala tak berhenti di situ. Besarnya volume pesanan, membuat sepeda motor yang sebelumnya dia gunakan tak lagi cukup menampung es kristal. Menyiasati itu, dia sempat berkali-kali mengganti mobil, salah satunya dengan menggunakan styrofoam untuk menghambat es produksinya mencair.

“Dari mobil pikap sampai akhirnya bisa membeli truk boks yang sudah memiliki alat pendingin agar es tidak meleleh,” beber dia.

Tentang proses pembuatan es, dia menyebut, dimulai dari penampungan air PDAM yang difilter dengan sinar ultraviolet. Setelah itu, air dimasukkan ke mesin selama 20 menit untuk dibekukan dan langsung dicetak. “Kemudian, barulah dikemas per 10 kg. Satu pak, saya jual Rp 10 ribu,”  imbuh dia.

Kini, dalam sehari, Sudirman mengaku bisa mencetak sekitar 3,5 ton es kristal per hari. Pelanggan Es Kristal Pandawa ini pun beragam, dari pedagang minuman level kaki lima, sampai restoran kelas atas dengan standar internasional.

Memenuhi orderan di Kota Tepian, dia kini menggunakan satu truk, satu grand mobil boks, dan tiga motor pengangkut khusus.

“Saya juga sudah punya reseller Samarinda dan sekitarnya. Paling besar, pelanggan saya adalah restoran-restoran di mal, seperti KFC yang memang membutuhkan es kristal dengan standar khusus,” tukas dia.

Selain bentuk yang dibuat menarik, perbedaan Es Kristal Pandawa dengan es batu pada umumnya, adalah jaminan kesterilan. Bahkan, setiap bulan kata dia, ada uji kimia untuk proses dan hasil produksi di pabrik yang berlokasi di kawasan Rapak Dalam, Loa Janan Ilir itu.

“Untuk beberapa pelanggan besar, seperti KFC, standar kualitas seperti itu wajib sifatnya. Mereka tak mau terima dari sembarang pabrik es,” pungkas pria yang baru menanggalkan seragam militernya pada Januari lalu itu. (man/lhl/k8)
 
loading...

BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2018 10:57

Begini Strategi Bankaltimtara Syariah Dongkrak Pangsa Pasar

SAMARINDA- Bankaltimtara Syariah terus berusaha meningkatkan sektor ekonomi syariah di Kalimantan Timur.…

Jumat, 19 Oktober 2018 06:58

Pertamina EP Tarakan Field Capai Target Produksi

TARAKAN – Kinerja unit Asset 5 Tarakan Field, milik PT Pertamina EP cukup membanggakan. Per September…

Kamis, 18 Oktober 2018 06:45

Triwulan III, Permintaan Batu Bara Meningkat

SAMARINDA – Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang sudah…

Kamis, 18 Oktober 2018 06:31

Pasar Properti Vila Stabil

SURABAYA – Pasar properti berkonsep resor seperti vila tetap terjaga. Salah satunya, The Taman…

Kamis, 18 Oktober 2018 06:30

Industri 4.0 Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Negara Asia

JAKARTA – Banyak kontribusi yang didapatkan dari implementasi industri 4.0 di kawasan Asia. Salah…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:50

Promosikan Wisata Halal Lombok

BADUNG – Pariwisata menjadi tema lanjutan pertama yang dibahas setelah pertemuan tahunan bertajuk…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:48

Pengusaha Butuh Kepastian Pasar

SAMARINDA - Program mandatori biodiesel 20 persen (B20)  atau pencampuran minyak kelapa sawit ke…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:48

Furnitur Impor Mulai Terdampak Kenaikan Dolar

BALIKPAPAN - Keperkasaan dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah tak serta-merta memengaruhi penjualan…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:45

MAUNYA SIH..!! Maloy Harus Beroperasi Bulan Ini

SAMARINDA - Sempat tertunda beroperasi dari target awal pada Agustus, Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:43

Jalan Dua Bulan, WP Meningkat hingga 18.424 Orang

BALIKPAPAN – Sejak Juli lalu, tarif pajak penghasilan (PPh) Final untuk usaha mikro, kecil, dan…

Triwulan III, Permintaan Batu Bara Meningkat

Pasar Properti Vila Stabil

Industri 4.0 Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Negara Asia

Promosikan Wisata Halal Lombok

Pengusaha Butuh Kepastian Pasar

Furnitur Impor Mulai Terdampak Kenaikan Dolar

MAUNYA SIH..!! Maloy Harus Beroperasi Bulan Ini

Jalan Dua Bulan, WP Meningkat hingga 18.424 Orang

Triton Masih Jadi Unggulan

Minyak Mentah Turun Bisa Jadi Penolong Rupiah
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .