MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Rabu, 04 Februari 2015 07:12
Suplai 3,5 Ton Es Per Hari untuk PKL hingga Restoran Internasional

Kisah Andi Sudirman, dari Militer ke Wirausaha

PROKAL.CO, v>

Jika sudah bulat, tekad berbisnis memang sulit dibendung. Bertahun-tahun mengabdi sebagai anggota militer, Andi Sudirman akhirnya kembali memilih mewarisi jiwa bisnis dari sang ayah.

ELLY KARTIKA SARI, Samarinda
 
PANGKAT sersan mayor TNI Angkatan Darat ditinggal Sudirman “hanya” untuk berbisnis es kristal. Yakni, es batu yang sengaja diproduksi untuk memenuhi kebutuhan minuman dingin di restoran dan rumah makan. Namun, tak banyak yang tahu pula, jika balok-balok kecil dari air beku itu mampu mencairkan rupiah, yang semakin tahun semakin berkembang nilainya.

“Usaha es kristal ini sudah saya rintis sejak masih berseragam TNI. Namun, saya akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha. Walaupun, dalam waktu dekat ini ada peluang melanjutkan pendidikan militer untuk kenaikan pangkat,” ucap pria asal Sulawesi Selatan ini.

Jiwa bisnis Sudirman dibentuk sejak kecil. Bersama Syariffudin, ayahnya, ia sudah kerap diajak berkeliling jualan ikan. Di Makassar, kampung halamannya, dia juga sempat mencicipi aktivitas sebagai penjual es batu bungkusan.

“Karena sudah pernah bersentuhan dengan es batu, saat pindah ke Samarinda, saya kembali terpikir untuk mencoba mengembangkan produk ini. Tapi, dengan konsep lebih modern, agar bisa bernilai tinggi,” papar dia.

Masih di sela-sela kesibukannya sebagai prajurit, dia memberanikan diri memulai usaha. Modal pun hanya dia dapat dari menggadai BPKB mobil saudaranya pada pertengahan 2011.

“Saat itu, modal pertama saya Rp 40 juta. Itu untuk membeli mesin pencetak es,” katanya.

Dengan kapasitas produksi yang baru 180 kg per hari, Sudirman merangkap tugas sebagai pengantar produknya. Dengan jaringan bisnis yang masih terbatas, dia menawarkan es batu miliknya secara door to door.

“Tidak ada yang mau beli, sampai es saya meleleh di perjalanan. Karena, saat itu saya masih pakai sepeda motor,” kenangnya sambil tertawa.

Dengan mental pantang menyerah ala militer, dia terus berusaha hingga akhirnya mendapat pelanggan pertamanya dari Pondok Borneo. “Orderan pertama waktu itu masih enam pak es per hari, satu pak isinya 10 kilogram (kg),” lanjutnya.

Setelah cukup dikenal dari mulut ke mulut, permintaan es batu miliknya terus bertambah. Bahkan, dia sempat kewalahan memenuhi karena terbatasnya kemampuan mesin pencetak.

 “Sampai saya harus beralasan, dengan bilang kalau mesinnya dalam perbaikan. Padahal, saya tak bisa penuhi permintaan karena mesinnya memang tidak bisa memproduksi banyak,” terang dia.

Merasa masih bisa meningkatkan kapasitas produksi, dia pun mengembangkan usaha dengan modal lebih besar. Kali ini, sang mertua yang menjadi “donatur” usahanya. Dari dana tersebut, dia membeli mesin yang bisa memproduksi 1 ton per hari pada Januari 2012.

“Harganya Rp 180 juta. Tapi, lambat laun juga tetap tak mampu membendung kelebihan pesanan,” jelas Sudirman, menceritakan kinerja mesin asal Korea itu.

Masih pada tahun yang sama, dia kembali memperbesar produksi, lagi-lagi dengan modal pinjaman yang kali ini dari bank. “Akhirnya, saya membeli mesin seharga Rp 522 juta pada Agustus  2013. Yang ini, kapasitasnya 4 ton per hari. Setahu saya, mesin ini adalah yang paling besar di Samarinda.

Meski begitu, mesin itu tak langsung dapat digunakan. Butuh empat bulan untuk mendaratkan mesin tersebut, setelah dia membayarnya. “Sempat ditinggalkan  pelanggan karena tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar,” tutur ayah tiga anak ini.

Kendala tak berhenti di situ. Besarnya volume pesanan, membuat sepeda motor yang sebelumnya dia gunakan tak lagi cukup menampung es kristal. Menyiasati itu, dia sempat berkali-kali mengganti mobil, salah satunya dengan menggunakan styrofoam untuk menghambat es produksinya mencair.

“Dari mobil pikap sampai akhirnya bisa membeli truk boks yang sudah memiliki alat pendingin agar es tidak meleleh,” beber dia.

Tentang proses pembuatan es, dia menyebut, dimulai dari penampungan air PDAM yang difilter dengan sinar ultraviolet. Setelah itu, air dimasukkan ke mesin selama 20 menit untuk dibekukan dan langsung dicetak. “Kemudian, barulah dikemas per 10 kg. Satu pak, saya jual Rp 10 ribu,”  imbuh dia.

Kini, dalam sehari, Sudirman mengaku bisa mencetak sekitar 3,5 ton es kristal per hari. Pelanggan Es Kristal Pandawa ini pun beragam, dari pedagang minuman level kaki lima, sampai restoran kelas atas dengan standar internasional.

Memenuhi orderan di Kota Tepian, dia kini menggunakan satu truk, satu grand mobil boks, dan tiga motor pengangkut khusus.

“Saya juga sudah punya reseller Samarinda dan sekitarnya. Paling besar, pelanggan saya adalah restoran-restoran di mal, seperti KFC yang memang membutuhkan es kristal dengan standar khusus,” tukas dia.

Selain bentuk yang dibuat menarik, perbedaan Es Kristal Pandawa dengan es batu pada umumnya, adalah jaminan kesterilan. Bahkan, setiap bulan kata dia, ada uji kimia untuk proses dan hasil produksi di pabrik yang berlokasi di kawasan Rapak Dalam, Loa Janan Ilir itu.

“Untuk beberapa pelanggan besar, seperti KFC, standar kualitas seperti itu wajib sifatnya. Mereka tak mau terima dari sembarang pabrik es,” pungkas pria yang baru menanggalkan seragam militernya pada Januari lalu itu. (man/lhl/k8)
 
loading...

BACA JUGA

Kamis, 21 Juni 2018 06:48

Berharap Bunga Kredit Tak Terdampak

BALIKPAPAN – Pengusaha di Kaltim berharap kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia tidak berdampak…

Kamis, 21 Juni 2018 06:46

Kinerja Perumahan Mengejar Ideal

SAMARINDA – Perekonomian Kaltim menunjukkan pertumbuhan apik pada triwulan pertama 2018. Menguat…

Kamis, 21 Juni 2018 06:44

Ujian Rupiah Berlanjut

JAKARTA – Setelah sentimen pertemuan G-7 (Grup 7) yang mempertemukan kelompok negara-negara maju…

Kamis, 21 Juni 2018 06:42

Triwulan I 2018, DPK Korporasi Meningkat

SAMARINDA – Dana pihak ketiga (DPK) atau simpanan korporasi di Kaltim mengalami peningkatan pada…

Kamis, 21 Juni 2018 06:37

Tenant Capai Target, Rata-Rata Belanja Rp 1,2 Juta Per Orang

Badai ekonomi yang menimpa Kaltim tiga tahun lalu membuat geliat usaha berjalan lambat. Masyarakat yang…

Kamis, 21 Juni 2018 06:34

Arus Balik, Konsumsi Pertamax Naik 17 Persen

JAKARTA – Memasuki masa arus balik H+4 Lebaran 2018, Satuan Tugas (Satgas) PT Pertamina (Persero)…

Kamis, 21 Juni 2018 06:33

Petani Belum Merdeka

NGAWI – Musim panen padi sudah di depan mata. Namun bukannya senang, sejumlah petani di Ngawi…

Rabu, 20 Juni 2018 06:44

Tertarik, tapi Terbentur Persyaratan

BALIKPAPAN - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7-day reverse repo rate sebesar 50…

Rabu, 20 Juni 2018 06:40

Juni, Inflasi Kaltim Diprediksi Terkendali

SAMARINDA - Meski beberapa harga pangan melambung sejak awal bulan, seperti ayam broiler, daging sapi,…

Rabu, 20 Juni 2018 06:38

478 Daerah Sudah Terima Dana Desa

SAMARINDA - Pembangunan perdesaan di Bumi Etam dipastikan bakal semakin cepat. Pasalnya, saat ini penyaluran…

Penumpang Bandara Angkasa Pura I Tumbuh 10 Persen

Lebaran, Konsumsi Elpiji Meningkat

CANTIK..!! Dimodif, Begini Tampilan Toyota C-HR

Kunjungan Wisman Belum Maksimal, Butuh Perbaikan Infrastruktur

E-Commerce Dongkrak Logistik

Rute Internasional Tumbuh 13 Persen

Diimbau Tidak Bawa Keluarga ke Kaltim

Suku Bunga Acuan BI Diprediksi Naik Lagi

Meningkat 80 Persen, Maskapai Siapkan Extra Flight

Harga Ayam Tertahan Libur Lebaran
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .