MANAGED BY:
JUMAT
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Rabu, 05 November 2014 08:40
Perbaiki Kondisi Ekologi Versi Mahasiswa IPB

Ekspedisi Tanah Borneo di Berau

PROKAL.CO, v>

TIGA belas mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 50 dari berbagai jurusan dan fakultas, memiliki pandangan tersendiri tentang menilai dan memperbaiki kualitas berbangsa dan bernegara. Yakni dengan melakukan ekspedisi.
 
Ari Arief, Penajam
 
“EKSPEDISI  bertujuan mengetahui keadaan di luar sana sehingga kita bisa menilai seberapa baik dan buruk sesuatu yang telah kita kerjakan di dalam ruang hidup kita sehari-hari, kemudian memiliki referensi untuk melakukan perbaikan diri,” kata Viedela, salah satu anggota Ekspedisi Tanah Borneo 2014. Bahrul Septian Dwi Cahyo dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan angkatan 48 IPB bertugas sebagai pendamping kegiatan ini. Seluruh anggota ekspedisi ini tergabung dalam organisasi pencinta alam, Lawalata IPB. “Kita semua anggota baru Lawalata IPB yang memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi untuk melakukan sebuah ekspedisi,” kata Viedela.
 
Keinginan yang kuat membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Keinginan untuk belajar dan melakukan suatu hal yang sama yaitu ekspedisi, dan mereka terus berbincang untuk menyusun sebuah ekspedisi yang diimpikan bersama. “Akhirnya kita sepakat untuk konsisten dalam menyusun dan menjalankan ekspedisi dari awal hingga akhir dengan tema “Menelusuri Potensi Ekosistem Karst Sangkulirang sebagai Bahan Pertimbangan Warisan Dunia” di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Tempat dan tema tersebut dipilih karena hangatnya isu tentang Karst Sangkulirang yang akan diajukan menjadi warisan dunia dengan memerhatikan masukan dari berbagai pihak,” ujarnya.
 
Persiapan dilakukan guna mematangkan konsep yang akan dilakukan, antara lain  materi dan keterampilan studi, penyusunan rundown kegiatan, persiapan finansial, kekompakan anggota, dan yang paling penting adalah penguatan mental.  “Setelah dirasa cukup, kita terlebih dahulu melakukan simulasi di beberapa tempat di Bogor, yaitu di Karst Ciampea dan Karst Jasinga. Simulasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk lebih memperdalam kemampuan sesuai yang akan dilakukan saat ekspedisi dan lebih mengeratkan ikatan antaranggota,” kata Anggi Prayoga anggota ekspedisi dari Departemen Manajemen.
 
Tepat pada 1 Juli 2014, dengan keyakinan tinggi mereka berangkat menuju Kampung Merabu. Inti kegiatan yang dilakukan dengan membagi tim menjadi tiga kelompok, yaitu Tim Endokarst (penelusuran gua, pemetaan gua, dan inventarisasi biota gua), Tim Biodiversitas Eksokarst (analisis vegetasi di sekitar mulut gua), dan Tim Sosial Budaya yang melakukan kajian pemanfaatan sumber daya hutan dan sejarah masyarakat adat.
 
 KAJI GUA
 
Beberapa gua yang mereka kaji, yaitu Gua Bloyot, Sedepan Bu, dan Lubang Tembus. Setiap gua yang berada di sana memiliki keunikan masing-masing, seperti cap tangan dan beberapa lukisan gua purba yang ada di Gua Bloyot yang dipercaya milik Bunga Inu; aliran air sungai yang ada di dalam Gua Sedepan Bu; serta pancaran sinar yang unik dari jendela-jendela gua yang ada di Lubang Tembus.
 
Ada beberapa keunikan biota dalam gua yang mereka temukan, seperti jenis dari famili Scuttigeridae dengan warna ungu dan ukurannya yang kecil. Biota tersebut sangat langka dan belum pernah ditemukan di gua-gua di Pulau Jawa.
Ini menunjukkan adanya perbedaan morfologi yang unik sehingga penting untuk dipublikasi.
 
Kerapatan vegetasi di hutan Kampung Merabu kondisinya masih sangat lebat dan beragam. Banyak mengalir sungai berasal dari hutan tersebut yang membantu masyarakat mendapatkan air dengan mudah. Airnya yang jernih tersebut juga menyimpan kekayaan biota sungai seperti berbagai macam ikan, kepiting, dan labi-labi. Dapat memakan ikan segar hasil memarang (menangkap ala suku Dayak) sendiri adalah suatu hal yang sangat berkesan bagi mahasiswa IPB ini.
 
Selain kekayaan gua dan ekosistem hutan, Kampung Merabu juga memiliki kearifan lokal dan adat istiadat yang cukup kuat. Masyarakat sangat percaya dengan sejarahnya yang berasal dari sosok bidadari cantik, bernama Bunga Inu. Sering kali masyarakat Kampung Merabu melakukan pesta sebagai tanda penyambutan dan pelepasan pengunjung.
 
Sebuah tanda keramahan tuan rumah. “Kita merasakan sendiri saat datang dan saat akan pulang, pesta panen, dan masih banyak pesta lain. Kehidupan di Kampung Merabu sangat kental dengan kebersamaannya. Bersih dan nyaman selalu disuguhkan di kampung tersebut, sangat damai dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan,” kata Viedela.
 
Sebagai tambahan referensi, mahasiswa memanfaatkan waktu untuk melakukan eksplorasi  potensi wisata yang ada di Kampung Merabu. Salah satu tempat spesial kampung tersebut, yaitu Telaga Nyadeng dan Puncak Ketepu. Air di Telaga Nyadeng berwarna biru segar dan memiliki beragam jenis ikan yang terlihat dari permukaan air.
 
Sedangkan dari Puncak Ketepu, keindahan yang disuguhkan adalah hijaunya tower-tower karst yang menjulang tinggi ke langit. Masih banyak lagi tempat unik di sekitar Kampung Merabu yang belum sempat kita kunjungi dikarenakan waktu sangatlah terbatas. Salah satunya Danau Tebo yang konon memiliki air sangat jernih serta hamparan lahan yang luas dengan kehidupan flora dan fauna yang masih liar. (far/k8)

 
loading...

BACA JUGA

Sabtu, 15 September 2018 01:57

Pangan Masih Bergantung, kalau Gelombang Harga Ikut Bergoyang

Di sejumlah media ramai "diskusi" tentang Rp 100 ribu bisa belanja apa zaman now? Wartawan Kaltim Post…

Sabtu, 15 September 2018 01:47

Cara Belajar Asyik, Butuh Penalaran dan Ketelitian

Matematika untuk sebagian siswa bisa menjadi pelajaran yang menakutkan. Tantangannya ada pada tingkat…

Sabtu, 08 September 2018 06:55

Wajib Perawan, Tes Kejiwaan yang Menentukan

Join the navy to see the world. Kalimat tersebut membakar semangat mereka yang ingin bergabung ke TNI…

Senin, 03 September 2018 08:10

Maju Terus Srikandi-Srikandi Bangsa

Oleh: Kompol Yolanda E. Sebayang SIK MM(Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Kaltim)SATU September lalu merupakan…

Sabtu, 01 September 2018 02:05

Orangtua Ngajar Bimbel, Berangkat ke AS setelah Dapat Sponsor

Rebecca Alexandria Hadibroto menjadi pebalet Indonesia pertama yang meraih first place kompetisi balet…

Kamis, 30 Agustus 2018 11:25

Perjuangan Berakhir di Sawah Lunto

Pada 7 April 1906 terjadi penyerahan kekuasaan Kesultanan Paser oleh Sultan Ibrahim Khaliluddin (Sultan…

Senin, 27 Agustus 2018 11:11
Rekam Jejak Perjuangan Pahlawan Suku Paser; Panglima Sentik

Dapat Gelar setelah Penggal Kepala Bajak Laut

Cukup banyak literasi yang terhimpun untuk mengisahkan perjalanan hidup Panglima Sentik. Karena keterbatasan…

Minggu, 26 Agustus 2018 21:22
Suka Duka Profesi Ulu-Ulu atau Pembersih Sampah Kali Code

Pernah Diajak Duel hingga Dilempar Sampah dari Atas Jembatan

Profesi ini mungkin belum begitu familiar di telinga masyarakat. Ulu-ulu Kali Code. Ya, profesi ini…

Sabtu, 25 Agustus 2018 07:36

Merasa Dibantu Malaikat saat Melempar Jumrah

Momentum haji bisa menggambarkan kuatnya persaudaraan antarmuslim di dunia. Imam Hambali benar-benar…

Sabtu, 25 Agustus 2018 07:20

Kepincut Durian Merah dan Ayam Urap Bakar-

Setelah memacu adrenalin dengan rafting di Sungai Badeng, Banyuwangi, rombongan berkunjung ke Desa Wisata…

Cara Belajar Asyik, Butuh Penalaran dan Ketelitian

Pangan Masih Bergantung, kalau Gelombang Harga Ikut Bergoyang
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .